Thursday, December 18, 2008

Masuk di Restoran Italia

Seorang pemuda membawa pacarnya ke sebuah restoran Italia yang sangat terkenal. Dia sendiri belum pernah masuk ke sana, tapi demi mengesankan pacarnya, dia memberanikan diri untuk masuk ke sana.

Setelah mereka duduk dan mencicipi anggur yang disajikan, si pria mengambil menu dan mulai memesan.

Karena bingung melihat nama-nama aneh masakan Italia, dia memilih sembarang.

"Pelayan, kami mau pesan Giuseppe Spomdalucci," kata si pria sambil memberi penekanan pada aksen Italinya.

"Maaf, Tuan," jawab pelayan. "Itu nama pemilik restoran ini!"

Sunday, December 7, 2008

Tiga Orang Kakek Pikun

Ada tiga orang Kakek lagi ngumpul sambil ngopi di Hugos Cafe.

Kakek 1: "Aku sudah jadi pelupa sekarang, contohnya habis ambil sirup melon di lemari es. Aku jadi lupa mau diapakan minuman segar itu. Aku sudah jadi pikun rupanya."

Kakek 2: "Wah aku lebih parah lagi, kalau berada di pintu kamar tidur langsung bingung. Aku mau keluar atau masuk ke kamar?"

Kakek 3: "Syukurlah aku belum menjadi pikun seperti kalian ini." Dan sambil berbicara dia mengetuk tangannya ke meja..tuk..tuk..tuk..

Kakek 3: "Tapi sebentar dulu, sepertinya ada tamu di luar sana ya."

Kakek 1 dan 2: ......#!#$^%%*&^)??!!

Pengangguran yang Terlalu Percaya Diri

Suatu hari ada pemuda yang melamar ke sebuah perusahaan, dan langsung menghadap HRD untuk melakukan wawancara,

HRD: "Apabila anda diterima di perusahaan ini, berapa gaji yang anda harapkan dari kami?"


Pemuda: "Saya ingin gaji dalam US Dollar saja pak, ya kurang lebih 10.000USD saya rasa sudah cukup pak."

HRD: "Boleh juga, sesuai dengan jabatan yang saudara lamar. mmmmmh bagaimana kalau perusahaan menawarkan lebih banyak? Kami sediakan mobil Mercedes seri terbaru, Rumah di pondok indah lengakp dengan kolam renang berikut isinya, liburan setiap akhir bulan keBali, cuti 25 hari setiap tahun plus bonus akhir tahun 5 kali gaji?"

Pemuda: "Ah, jangan bercanda dong pak."

HRD: "Loh……. anda dulu yang ngajak bercanda to?"

Thursday, November 27, 2008

jauh-dekat


Klo diliat dari deket, foto ini klihatan kyk Albert Einstein.

Trus coba menjauh dari layar monitor, berdiri pada jarak 2 meter dari monitor. Fotonya akan terlihat kyk Marilyn Monroe.

money can't buy

Money can buy a house, but not a home.
Money can buy a bed, but not sleep.
Money can buy a clock, but not time.
Money can buy a book, but not knowledge.
Money can buy food, but not an appetite.
Money can buy position, but not respect.
Money can buy blood, but not life.
Money can buy medicine, but not health.
Money can buy sex, but not love.
Money can buy insurance, but not safety.

membanggakan HP ayah masing2

Ada 2 orang anak kecil, berdebat, membanggakan hp bapak mereka. Seperti ini percakapan mereka.

Adi : "HP bapak ku udah 3.5G lho. Jadi video call ga putus-putus lagi."
Budi : "Masih 3.5G??, HP bapakku uda 4G. Bluetoothnya radius 5km."

Adi gak mau kalah,
Adi : "HP bapak ku tahan air."
Budi : "HP bapak ku tahan api."

kedua anak mulai aneh
Adi : "HP bapakku ada TVnya, bisa nonton."
Budi : "Pasti siaran lokal. HP bapakku banyak channelnya, soalnya pakai indovision,telkomvision, dan Astro."

Adi : "HP bapakku ada rodanya, kayak mobil gitu. Wekkkk..."
Budi : "Jangan bangga dulu, HP bapakku ada pomp bensinnya. pasti kalian isi bensin di HP bapakku.

Adi : "HP bapakku ada garasinya, kemarin aja masukin mobil ke HP bapak, bukan ke garasi."
Budi : "Lebih hebat lagi HP bapakku, ada ruang tamunya. Kemarin ada acara arisan, diadain di HP bapakku. wekkkkkk!!"

Adi : "HP bapakku bisa terbang, besok kami mau pergi ke Singapore, naek HPnya bapak."
Budi : "Ihhh, HP bapakku ada bandaranya. Aku yakin, kalian pasti mendarat diHP bapakku."

Adi : "HP bapakku pernah dapat juara nasional.Juara Catur"
Budi : "Nasional aja bangga!!, HPnya bapakku pernah juara internasional,juara olimpiade, angkat besi."

Adi : "Lebih hebat ya.. tapi HP bapakku juga dingin lho, ada ACnya."
Budi : "Grrrrrrrr... udah dulu ya di, kita tidur aja. besok pagi dilanjutin lagi, masih banyak kehebatan HP bapakku."

Padahal HP bapak kedua anak ini hanya Nokia 3315.

Wednesday, November 26, 2008

Cermin untuk Perbaikan Diri

Tidak ada seorang pun yang harus bertanggung jawab atas kehidupan kita. Karena apa yang kita lakukan, akibatnya harus kita tanggung sendiri. Ini adalah hukum sebab akibat, hukum kehidupan yang harus dihadapi oleh setiap orang.

Setiap pemikiran yang muncul dalam otak kita adalah milik kita. jadi apapun keputusan yang diambil untuk menghadapi perjalanan hidup ini adalah hasil pemikiran kita sendiri. Hal ini berarti kita bertanggung jawab terhadap akibat dari setiap keputusan tersebut. Namun karena perasaan yang dangkal, tidak terbuka terhadap kesalahan dan kelemahan diri sendiri, acapkali orang lain menjadi kambing hitam atas keputusan itu.

Menyalahkan Orang Lain
Kebiasaan menyalahkan orang lain bisa disamakan dengan kebiasaan orang FARISI. Mereka selalu merasa benar dan tidak ingin disalahkan. Mereka menganggap orang lain lebih rendah dari mereka dan kebenaran harus selalu datang dari mereka. Apabila kebenaran datang dari orang lain, mereka akan mengeluarkan manuver politik bahwa itu bukanlah kebenaran. Itu adalah bidaah, kebenaran palsu, kebohongan yang menyesatkan dan perbuatan setan. Sebab-sebab itulah yang nyata-nyata telah membuat Yesus tersalib di atas bukit Golgota.

Kebanyakan orang tidak mau mengakui kesalahan ataupun kelemahannya karena merasa malu. Takut dipandang hina, rendah dan dicap jelek oleh orang-orang di sekitarnya. Karena perasaan malu, tanpa sadar mereka telah mengambil jalan untuk membohongi diri sendiri dengan mengatakan kelemahan orang lain. Mereka tidak ingin disalahkan, tidak ingin dipandang rendah, serta tidak rela bila orang lain tahu kekurangan mereka. Karena sebab ini pula mereka harus jatuh dalam lubang luka-luka batin yang menyesakkan.

Mereka tidak tahu bahwa Tuhan sedang membuka jalan lewat penglihatan itu. Penglihatan akan kesalahan, atau kelemahan pada diri adalah cara Tuhan membuka hati kita untuk kembali menggali kebenaran hati nurani. Semua itu dibuka agar kita menyadari bahwa itu salah dan itu benar, sehingga dengan pertimbangan itu kita mampu melangkah tanpa ada takut atau khawatir. Rasa malu karena kesalahan dan kelemahan bukanlah barang berharga, bukan pula sesuatu yang harus disimpan.

Rasa malu untuk mengakui kesalahan dan kelemahan adalah racun bagi diri kita sendiri, karena suatu saat mungkin kita akan menderita dan mati karenanya.

Menyalahkan orang lain hanyalah tanda kelemahan bahwa kita tidak mampu menyadari diri kitalah yang salah. Hal itu juga pertanda penolakan seseorang atas kesadaran dari Tuhan untuk mengembangkan dan menggali kebenaran diri sendiri. Mereka lebih memilih kesadaran egois mereka yang merugikan daripada kesadaran yang datang dari Tuhan, dengan menyalahkan orang lain.

Perilaku ini harus ditanggung oleh orang yang melakukannya dan tidak orang lain yang mampu mempertobatkannya selain pertobatan dari dalam diri sendiri. dan jalan pertobatan itu hanya dapat dibayar dengan meminta maaf dan tidak mengulangi kesalahan yang sama di kemudian hari.

Cermin dari Orang Lain

Ada begitu banyak kejahatan, penyimpangan nilai-nilai dan norma, serta fakta-fakta yang diputar balikkan kebenarannya. Lalu dari semua peristiwa tersebut, para pelakunya harus menanggung akibat dari perbuatan mereka. Ada yang dihukum, dipenjara, dihukum gantung, ataupun dihukum mati oleh massa yang berang dengan perbuatan mereka.

Ada juga yang masih enak-enakan tidur diatas kasur empuk sambil berpikir untuk mendulang lebih banyak keinginannya dengan jalan diatas. Namun orang seperti itu di dalam hatinya tidak pernah ada kedamaian dan ketenangan. Karena apa yang mereka dapatkan berasal dari jalan yang tidak benar, dari jalan haram.

Semua yang terjadi di sekitar kita tidak terjadi secara kebetulan, tapi sudah ada yang mengatur. Tuhan tahu kelemahan dan kekurangan kita, lalu Ia memilih orang lain sebagai sarana untuk menyadarkan. Artinya apapun yang terjadi pada orang lain di sekitar kita adalah cermin bagi perilaku kita sendiri. Namun kesadaran kita seringkali tidak menangkap apa yang dimaksudkan Tuhan.

Kita lebih sering menganggap hal tersebut bukan urusan kita, tidak ada yang perlu dipusingkan ataupun dipelajari. Padahal pelajaran kebenaran atas hidup, pengetahuan tentang jalan Tuhan hanya bisa kita dapatkan lewat pengalaman sendiri dan juga lewat perbuatan orang lain.

Keburukan dan keteledoran perilaku orang lain haruslah menjadi pelajaran dan cermin bagi perilaku kita sendiri. Hindari menghakimi orang lain dengan mengatakan keburukan dan kejelekannya. Coba pikirkan; adakah gunanya bagimu?
Lebih baik diam dan perhatikan dengan seksama, pasti ada sesuatu maksud yang ingin Tuhan tunjukkan lewat perilaku orang lain itu.

Mungkin perilaku kita mulai menjurus ke arah yang kurang baik, sehingga kita diingatkan bahwa perilaku tersebut sebaiknya dihindari dan tidak dilakukan. Begitu juga hal-hal yang terjadi di seluruh dunia, apa yang tidak baik dan akibatnya merugikan banyak orang, adalah bukan jalan mendekatkan diri kepada Tuhan.

Semua pikiran, perasaan dan perilaku orang lain adalah cermin bagi pikiran, perasaan dan perilaku kita sendiri. Setiap orang adalah guru bagi kemajuan diri kita sendiri, karena dari mereka, kita belajar tentang hidup, tentang baik dan buruk, tentang yang benar dan yang salah, tentang mengikuti suara hati dan menghindari rasa malu yang merugikan. Sehingga tidak ada alasan bagi kita untuk memandang tinggi atau rendah orang lain, melainkan semua adalah guru bagi perkembangan mental, jiwa dan kesadaran kita menuju muara keabadian, rumah Tuhan.